Marsinah, Sang Martir Kaum Buruh

MAYDAY 2013– Peringatan Hari Buruh Sedunia 2013. Setiap tahun,peringatah hari buruh diisi dengan unjuk rasa para buruh. Namun, unjuk rasa yang terjadi setiap tahunnya tidak lebih hanya teriakan rakyat yang tidak didengar oleh pemerintah, karena tidak pernah ada jalan keluar yang diberikan oleh pemerintah kepada para buruh. Hal ini sungguh miris, mengingat 20 tahun lalu, seorang wanita meninggal sebagai martir kaum buruh saat memulai aksi dengan tuntutan kehidupan yang layak bagi para buruh.

 

tumblr_m8clyr7gSI1ql1f2ko1_1280

NAMANYA MARSINAH

Perempuan ini lahir tanggal 10 Apirl 1969. Anak ke-2 dari 3 bersaudara ini sejak kecil sudah ditinggal mati oleh ibunya dan ditinggal juga oleh ayahnya yang pergi entah kemana, sehingga Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya dan tinggal bersama bibinya di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.(sumber) Menurut kakaknya, Wijiati, Marsinah kecil adalah tipe anak yang mandiri dan tidak suka dengan ketidakadilan. Wijiati mengatakan bahwa dulu ketika ada yang mengganggunya, Marsinah pasti akan mencari orang yang mengganggu kakaknya dan membalasnya.(TEMPO HARI-TV One) .

Marsinah menempuh pendidikan pertamanya di SD Karangasem, kemudian lanjut ke SMPN 5 Nganjuk , dan mondok di SMA Muhammadiyah. Karena keterbatasan biaya Marsinah tidak dapat melanjutkan kebangku Kuliah. Semasa sekolah, marsinah dikenal sebagai siswa yang cerdas dengan menjadi juara kelas. Marsinah percaya, pendidikan dapat mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik. Selama sekolah, Marsinah tidak membebankan semua biaya kebutuhan hidupnya kepada nenek dan bibinnya. Marsinah berusaha mandiri dengan mengisi waktu luangnya untuk berjualan makanan kecil. Ketika menghadapi kenyataan tidak bisa melanjutkan pendidikan kebangku kuliah, Marsinah memutuskan untuk meninggalkan desa untuk mencari kerja. Marsinah berusaha mengirimkan sejumlah lamaran ke berbagai perusahaan di Surabaya, Mojokerto, dan gresik. Hingga kemudian Marsinah pun bekerja di PT. CPS sebagai buruh.(sumber)

 

KRONOLOGI PERISTIWA KEMATIAN MARSINAH

Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya)—pabrik tempat kerja Marsinah—resah karena ada kabar kenaikan upah menurut Sudar Edaran Gubernur Jawa Timur. Dalam surat itu termuat himbauan pada para pengusaha untuk menaikkan upah buruh sebesar 20% dari upah pokok. Pada minggu-minggu tersebut, Pengurus PUK-SPSI PT. CPS mengadakan pertemuan di setiap bagian untuk membicarakan kenaikan upah sesuai dengan himbauan dalam Surat Edaran Gubernur. Keresahan tersebut akhirnya berbuah perjuangan. Pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para Kepala Bagian. Sebagian buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk tidak masuk kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untukmencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.

Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift serentak masuk pagi dan mereka bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh shift II dan shift III. Tidak ketinggalan, para satpam juga mengibas-ibaskan tongkat pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil meneriakan tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa.

Suasana kota yang penuh dengan persaingan telah membuat setiap orang yang tinggal didalamnya untuk menjadi keras. Apalagi kehidupan buruh-buruh di pabrik yang setiap hari dikejar-kejar target produksi yang telah ditetapkan sepihak oleh pengusaha. Maka menjadi tidak mengherankan bahwa Marsinah, gadis desa yang lugu, lalu tidak canggung berdiri di barisan terdepan pengunjuk rasa. Sebuah keberanian telah menggusur kepasrahan pada nasib!Semakin merebak jumlah aksi pemogokan di berbagai kota industri menjadi bukti ketidakpuasan. Pabrik, gedung Dewan Perwakilan Rakyat, instansi-instansi pemerintah yang berurusan dengan masalah perburuhan, dan jalanan-jalanan kota menjadi panggung yang mementaskan keresahan kaum buruh yang tak kunjung terhenti. Menurut berita, di Jawa Timur tercatat 155 pemogokan yang semuanya dihadapi tentara.

Aparat dari koramil dan kepolisian sudah berjaga-jaga di perusahaan sebelum aksi berlangsung. “Ya sudah, kalau teman-teman tidak diperbolehkan masuk, keamanan saya serahkan kepada bapak, kami sekarang hendak berunding dengan pengusaha!”, ucapnya pada salah seorang aparat keamanan.`Perundingan berjalan dengan hangat. Dalam perundingan tersebut, sebagaimana dituturkan kawan-kawannya. Marsinah tampak bersemangat menyuarakan tuntutan. Dialah satu-satunya perwakilan dari buruh yang tidak mau mengurangi tuntutan. Khususnya tentang tunjangan tetap yang belum dibayarkan pengusaha dan upah minimum sebesar Rp. 2.250,- per hari sesuai dengan kepmen 50/1992 tentang Upah Minimum Regional. Setelah perundingan yang melelahkan tercapailah kesepakatan bersama.

Berakhirkah pertentangan antara buruh dengan pengusaha? Ternyata tidak! Tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa babibu, tentara mendesak agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh terpaksa menerima PHK karena tekanan fisik dan psikologis yang bertubi-tubi. Dua hari kemudian menyusul 8 buruh di-PHK di tempat yang sama. Sungguh! Hukum menjadi kehilangan gigi ketika senapan tentara ikut bermain.Marsinah sadar betul bahwa peristiwa yang menimpa kawan-kawannya adalah suatu keniscayaan di negeri milik pengusaha ini. Dari kliping-kliping surat kabar yang diguntingnya, dari keluhan-keluhan kawan-kawannya se pabrik, dari kemarahan-kemarahan yang teriakkan, dan dari apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri, semuanya memberinya pengetahuan tentang ketidakberesan yang melanda segala lapisan dalam masyarakat kita.

Kemarahannya meledak saat mengetahui perlakuan tentara kepada kawan-kawannya. “Saya tidak terima! Saya mau (melapor) ke paklik saya yang jadi jaksa di Surabaya!” teriak Marsinah gusar. Dengan gundah ia raih surat panggilan kodim milik salah seorang kawannya, lantas pergi.(sumber)

 

Pukul 22:00, Marsinah pergi, kemudian menghilang. 3 hari kemudian, Marsinah ditemukan telah menjadi mayat, Mayatnya ditemukan di gubuk petani dekat hutang Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993.

 

Marsinah telah mati. Sekujur tubuhnya penuh luka memar bekas pukulan benda keras. Kedua pergelangannya lecet-lecet, mungkin karena diseret dalam keadaan terikat. Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda keras berkali-kali. Di sela-sela pahanya ada bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul. Pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah. Mayatnya ditemukan dalam keadaan lemas, mengenaskan.(sumber)

20 tahun sudah kasus pembunuhan terhadap Marsinah terjadi. Berulangkali pemerintah berjanji untuk mengusut kasus Marsinah, namun pada akhirnya kasus ini lesap dimata hukum. Hal ini menggambarkan bahwa hukum dan keadilan masih belum tegak di negri ini dan entah kapan akan tegak. Hukum dan keadilan masih tunduk dengan pemerintahan (bobrok) yang berkuasa.  Marsinah memang telah tiada, tetapi semangat kebangkitan yang diperjuangkannya tetap hidup sampai saat ini. Saya, Anda, Kita, Kalian harus menolak lupa akan kasus Marsinah, walaupun sudah 20 tahun lamanya. Saya, Anda, Kita, Kalian adalah saksi yang akan terus bercerita bagaimana bobroknya hukum di negri ini.

MAYDAY 2013– Peringatan Hari Buruh Sedunia 2013, bukan sekedar momentum untuk para buruh untuk bersuara menuntuk hak. Hari buruh juga merupakan momentum untuk mengenang kembali perjuangan Para Martin Kaum Buruh dan kemudian menolak lupa betapa bobroknya hukum dinegri ini.

 


ARTIKEL TERKAIT

Marsinah Namanya – Kompasiana
Marsinah – Wikkipedia
Marsinah, Tragedi Seorang Buruh – Front Perjuangan Rakyat
Marsinah: Korban Orde Baru, Pahlawan Orde Baru – Koran Pembebasan

Advertisements