Kursus Perempuan (I)

Agenda 18, Inkrispena, dan Yayasan Obor bekerjasama menyelanggarakan kursus menulis yang mereka namakan dengan KURSUS PEREMPUAN. Dengan motivasi ingin mengevaluasi tulisan dan pola pikir saya yang masih seksis, saya pun memutuskan untuk ikut kursus ini. Pertempuan pertama dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2017, dengan pembicara Ruth Indiyah Rahayu, atau yang kami sapa dengan Mbak Yuth.

Figure 1.

Figur 01. Mbak Yuth memberikan pengantar teori tentang bagaimana menulis sebagaimana perempuan menulis

Materi pertemuan pertama berisi pengantar tentang bagaimana menulis sebagaimana perempuan menulis. Berikut review materi pada pertemuan pertama.

I Write Therfore I am: Menyelisisk Peran Perempuan dalam Dunia Tulisan

Perempuan kerap dilekatkan pada kegiatan-kegiatan yang  berada pada ranah domestik belaka, seperti mengurusi urusan dapur, sumur, dan kasur. Namun kegiatan keseharian tersebut tersembunyi dari ranah publik, sehingga peran dan narasi-narasi akan aktivitas perempuan tidak terlalu dimunculkan dalam pelbagai tulisan. Mulai dari teks sejarah, laporan penelitian, hingga tulisan-tulisan populer seperti jurnalisme menempatkan sosok perempuan sebagai pelengkap saja.

Hal tersebut semakin diperparah dengan kurangnya produksi tulisan oleh perempuan. Kurangnya kehadiran perempuan tersebut memiliki berbagai dampak negatif. Seperti semakin dilanggengkannya budaya partiakal karena selalu menampilkan peran laki-laki dan kurangnya narasi-narasi alternatif yang mampu menawarkan sudut pandang berbeda dalam dunia tulisan.

Terdapat beberapa penyebab kurang tereksposenya peran dan kegiatan perempuan dalam dunia tulisan. Pertama karena adanya praanggapan, yaitu pandangan-pandangan yang melanggengkan peran perempuan sebagai bukan yang utama. Seperti praangapan bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Pola pikir seperti itu terus disebar dari generasi ke generasi sehingga telah menjadi kepercayaan bagi kalangan tertentu. Penyebab kedua, karena maskulinitas filsafat.

Sebagai asal usul ilmu pengetahuan, filsafat menekankan pentingnya untuk menulis. Di sisi lain, akses untuk menulis selalu terbatas untuk perempuan. Sehingga kebiasaan perempuan untuk menyebarkan pengetahuan secara lisan kerap dianggap kurang sahih. Penyebab terakhir adalah metodologi dalam menulis juga telah dipengaruhi praanggapan, sehingga jangankan perempuan untuk menulis, pendapat perempuan yang dijadikan narasumber pun kerap disangsikan.

            Berangkat dari hal-hal tersebut, maka penting bagi perempuan untuk turut menulis, karena perempuan mampu menawarkan hal baru dengan intuisi berbeda yang dimilikinya. Dengan menulis perempuan juga turut menghasilkan produk ilmu pengetahuan yang mampu menjadi alternatif. Tidak perlu terlalu jauh untuk menghasilkan tulisan baru dengan proses penelitian panjang dan belum pernah ditemukan sebelumnya.

Langkah awal dapat dilakukan dengan melakukan pembacaan ulang terhadap narasi yang telah ada lalu mengkritisi dan menulis ulang dengan menggunakan intuisi perempuan. Lebih lanjut untuk memproduksi tulisan baru pun perempuan tidak perlu terlepas dari keseharian mereka di ranah domestik. Meski dianggap kurang politis dan penting, namun narasi keseharian perempuan pada dasarnya merupakan potongan dari narasi besar peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada era-era tersebut.***

Advertisements