Kursus Perempuan (II)

Perempuan dalam Media: Subjek atau Objek?

Pengaruh kapitalisme membuat media massa Indonesia cenderung enggan melawan arus dominan, meskipun arus tersebut melanggengkan nilai-nilai patriakal. Kecenderungan tersebut dapat dilihat melalui rendahnya jumlah keterlibatan perempuan dan banyaknya tulisan-tulisan yang diskriminatif dan bias pada isu-isu yang terkait perempuan, atau yang dikenal dengan tulisan-tulisan seksis. Berangkat dari keprihatinan akan tulisan-tulisan seksis yang banyak tersebar di industri media massa, Kursus Perempuan mengakat tema bertajuk Membongkar Tulisan-tulisan yang Bernuansa Seksis  pada pertemuan kedua.

Pembicara pada pertemuan tersebut adalah seorang jurnalis perempuan bernama Gloria Fransisca Katharina, atau yang kerap disapa Tita. Dalam penjelasannya Tita mengakui bahwa perempuan masih ditempatkan sebatas objek semata. Akibatnya suara-suara perempuan akan isu-isu terkini tidak pernah terdengar dan representasi citra perempuan yang ditangkap hanya sebatas terkait isu-isu domestik dan kecantikan.

Terkait hal tersebut Tita memberikan contoh yang aplikatif dengan mengajak para peserta kursus perempuan untuk menganalisis tulisan-tulisan seksis yang diambil dari berbagai media daring. Proses analisis dilakukan dengan diskusi berpasangan antara dua orang perserta kursus dan kemudian mempresentasikan hasil diskusi tersebut. Dari tujuh artikel yang dianalis, ditemukan beberapa kecenderungan seksis yang dilakukan media-media tersebut.

02

Figur 1. Tita tengah menjelaskan mengenari perempuan dalam meda.

Pertama, media-media tersebut bias dalam merepresentasikan peran perempuan. Misalnya pada dua artikel yang dimuat pada laman viva.co.id dengan judul Ermalena, Politisi yang Hobi Kunjungi Pelosok ( 2015) dan Aleta Baun, Perempuan Pahlawan Lingkungan dari NTT (2013). Kedua artikel tidak fokus menceritakan perjuangan dan sepak terjang, namun lebih menekankan pada peran perempuan sebagai pendamping dengan peran ganda karena tidak bisa terlepas dari ranah domestik. Seperti Ermalena yang karirnya sebagian besar hanya menjadi wakil dan Aleta Baun yang mendapat penghagaan karena melakukan pergerakan dengan kegiatan domestik, yaitu menenun.

Kedua, terdapat kecenderungan bias dalam merepresentasikan citra perempuan cantik. Seperti pada artikel berjudul Kerap Dibully, Wanita Ini Buktikan Kesetiaan Cintanya pada Suami (2017). Meskipun terjadi di Filipina, namun terdapat benang merah akan citra ideal perempuan cantik yaitu berkulit putih dan berambut panjang. Sedangkan suami perempuan dalam artikel tersebut yang berkulit hitam dan berambut gelombang dianggap pasangan yang tidak sepadan karena kurang menarik.  Vemale.com sebagai media dengan pembaca terbanyak adalah perempuan, jelas dalam kasus ini justru melanggengkan citra perempuan cantik yang mengabaikan keberagaman suku dan ras di Indonesia.

Hal ketiga yang ditemukan adalah media kerap diskriminatif dan menyudutkan perempuan pada kasus-kasus yang berhubungan dengan seksualitas. Seperti pada artikel Berdua di Indekos, Buruh Bangunan Gauli ABG (2017) dari laman timorexpress.fajar.co.id, Yaeelaaaaa…..Lima Siswi Gagal Ujian Gara-gara Ngebet Nikah (2017) dari laman kendaripos.fajar.co.id  dan Nafsu Sesaat Bikin Hancur Karir Ketua PA Padang Panjang (2016) dari laman merdeka.com. Artikel-artikel sama-sama menghadirkan perspektif  bahwa perempuan-perempuan tersebut bersalah, sehingga wajar menjadi korban atau menerima hukuman. Padahal, tentu kasus-kasus tersebut tentu saja tidak dilakukan sendiri. Jelas terdapat andil dari laki-laki, namun tidak dimunculkan dalam artikel.

Terakhir, media kerap menjadikan segala yang melekat pada tubuh perempuan sebagai komoditas. Seperti pada artikel yang berjudul Heboh! Ayu Ting Ting Tertangkap Kamera Tengah Garuk-Garuk ‘Anunya’ (2016) dari laman kendaripos.fajar.co.id. Jika dilihat pada gambar yang dicantumkan, tidak ada indikasi jelas bahwa Ayu Ting Ting tengah menggaruk payudara, seperti yang tertera pada judul berita. Namun, demi mengejar jumlah pembaca, media tersebut menjadikan ‘anunya’ Ayu Ting Ting sebagai komoditas untuk menarik banyak pembaca.

Perilaku-perilaku seksis yang tampak pada tulisan-tulisan di media massa memang menjadi momok bagi kemajuan dan kontribusi perempuan dalam media massa. Padahal dalam pasal 8 kode etik jurnalistik jelas menyebutkan bahwa wartawa Indonesia tidak diperbolehkan membuat dan menyebarkan berita yang diskriminatif atas beberapa perbedaan, termasuk perbedaan jenis kelamin. Oleh sebab itu, perlu dikembangkan jurnalistik yang berperspektif gender, yaitu jurnalistik yang bukan hanya tidak bias, namun juga terus menggugat ketimpangan sosial dengan berlandaskan pada perpektif gender. (Subono, 2003)

Untuk mewujudkannya beberapa cara dapat dilakukan.  Pada tingkat institusi, Tita menganjurkan menambahkan perlu ada keseimbangan komposisi perempuan dan laki-laki di media masa dan menjujung tinggi prinsip cover both site, sehingga mampu mengurangi bias-bias dalam tulisan. Namun, ketimpangan dan diskriminatif tidak akan usai jika tidak ada tindakan aktif dari pembaca.

Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai pengkonsumsi berita adalah menjadi pembaca kritis dan tidak hanyut dalam perspektif patriakal yang dihadirkan. Terkait hal tersebut, maka permbaca perlu untuk membaca tidak hanya dari satu sumber referensi saja. Namun, di atas segalanya pembaca juga perlu melakukan tindakan preventif dengan tidak menyebarkan berita-berita seksis melalui sosial media atau minimal jika ingin menyebarkan, sebarkan berita tersebut disertai komentar kritis atas artikel-artikel tersebut. ***

Advertisements