Ketika Perempuan Mengobjektifiasi Sesama Perempuan

Opini terhadap Film Lesbian Below Her Mouth (2016)

Film-film yang mengangkat isu tentang lesbian, terutama yang mengandung adegan erotis, alih-alih bentuk kebebasan perempuan merayakan seksualitas, film-film tersebut kerap dianggap sebagai bentuk lain dari objektifikasi perempuan. Anggapan demikian muncul karena para pembuat film-film lesbian adalah laki-laki.

Seperti yang tercatat dalam sebuah ulasan pada laman nbsnews.com (2017),  dalam 10 tahun terakhir saja tercatat film-film lesbian populer seperti  Blue Is The Warmest Color (2013), The Handmaiden (2016), dsb disutradarai dan diproduksi oleh laki-laki. Film-film tersebut dianggap mengeksploitasi perempuang dengan menggunakan sudut pandang kamera tatapan laki-laki atau male gaze, yang dianggap kerap mengeksploitasi tubuh perempuan.

Pada September 2016 dirilis sebuah film lesbian yang berjudul Below Her Mouth di Kanada. Film tersebut menceritakan tentang pergulatan Jasmine (Natalie Krill) akan orientasi seksualnya. Jasmine adalah seorang penata busana sukses yang telah memiliki tunangan seorang laki-laki yang telah bersamanya selama 6 tahun.

Kehidupannya berubah ketika ia bertemu Dallas (Erika Linder), seorang lesbian pekerja perusahaan konstruksi atap (roofer), yang sedang bekerja di lingkungan rumah Jasmine. Terpikat dengan Dallas setelah bertemu di sebuah bar dan mereka pun melakukan hubungan seksual. Sejak saat itu Jasmine pun bergulat dengan dirinya untuk memahami apa orientasi seksual dan harus seperti apa menyikapi hubungan dengan tunangannya.

Film karya sutradara April Mullen tersebut diklaim sebagai satu-satunya film lesbian dengan seluruh anggota tim produksi adalah perempuan. Dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam thefts.ca (2017), Mullen mengungkapkan bahwa dengan melibatkan perempuan secara penuh dalam produksi maka sudut pandang perempuan akan autentik dan bebas dari objetifikasi perempuan.

 

Below-Her-Mouth-Watch-Online-Full-Movie-DvDRip-Download-img2.jpg

Figur 1. Sumber

Dikotomis Heretoseksual Dalam Pola Hubungan Lesbian

Menantang klaim tersebut, unsur-unsur feminitas yang dikatakan bebas dari objektifikasi dalam film tersebut perlu dipertanyakan kembali. Pasalnya perkara objektifikasi perempuan bukan hanya soal apakah dibuat atau diproduksi oleh perempuan dan laki-laki. Sebab akibat budaya patriakal, objktifikasi perempuan telah menghegemoni dan turut membentuk pola pikir para perempuan itu sendiri.

Jika dibandingkan dengan beberapa film tentang lesbian, adegan hubungan seksual dalam film Below Her Mouth memang sudah merepresentasikan kaum lesbian. Karena tidak sekedar hubungan seks, penonton juga disuguhkan hubungan emosi timbal balik yang kuat dari dua pemeran utama yang dipasangkan dalam film tersebut.

Hal tersebut disebabkan salah satu pemeran utama dalam film tersebut, Linder, memang merupakan seorang lesbian dalam kesehariannya. Sehingga meskipun lawan mainnya Krill, seorang heteroseksual, Linder mampu membimbing Krill untuk melakukan adegan tersebut dengan baik.

Meskipun demikian klaim keberhasilan terkait autentisitas sudut pandang yang tidak mengobjektifikasikan perempuan, belum bisa dikatakan sah jika belum dikaji secara kritis terkait narasi dan simbol-simbol pada film Below Her Mouth. Dapat dikatakan narasi film tersebut tetap terjebak dalam konstruksi budaya patriakal dan hal tersebut terlihat pada beberapa hal.

Pertama, dari pola hubungan dua pemeran utama yang hierarkis. Meskipun Jasmine dan Dallas merupakan pasangan lesbian, namun tetap ada pembagian dikotomi maskulin dan feminine. Dallas kerap menggunakan pakaian laki-laki seperti jas, kemeja, celana panjang, dll. Sebaliknya Jasmin, kerap memakai gaun pendek, dengan potongan kerah yang pendek.

Kedua, pola maskulin-feminin juga tampak dalam perilaku tokoh dalam keseharian, seperti Dallas yang mengejar Jasmin, menyetir mobil, membukakan pintu, dan berbagai perilaku khas laki-laki.

Ketiga, pola dikotomis maskulin-feminin juga dapat dilihat dari pekerjaan yang diperankan masing-masing pemeran utama. Dallas yang mewakili sisi maskulin bekerja dibidang yang kerap dikuasai laki-laki, yaitu roofer. Sebaliknya Jasmine, ia bekerja di industri busana, tepatnya menjadi penata busana.

Yang terakhir, perbedaan juga turut terlihat pada adegan hubungan seksual. Dallas sebagai yang maskulin selalu dengan berada di atas, dan menggunakan gaya seperti pasangan heteroseksual pada umumnya. Kesan tersebut semakin dipertegas dengan penggunaan  packing[1] oleh Dallas dalam setiap kali berhubungan dan tidak pernah sebaliknya.

Paparan penanda maskulin dan feminin tersebut membutikan bahwa film ini hanya memindahkan pola hubungan heteroseksual ke dalam tubuh lesbian. Sehingga bisa dikatakan narasi cerita dalam film ini tidak autentik sudut pandang perempuan.

Objektifikasi dari Kacamata Perempuan

Perkara objektifikasi perempuan, hal tersebut masih diperdebatkan karena belum ada batas yang jelas terkait erotik dan pornografi. Namun, jika merujuk pada pernyataan Krill dalam suatu wawancara, “It’s about being authentic to who you are, whether you’re with a man or a woman. It can apply to any part of your life” (thefts.ca, 2017), berarti film ini memasukan laki-laki sebagai target penonton. Hal tersebut setidaknya menunjukkan dua hal.

Pertama, ada kemungkinan pembuat film mempertimbangkan penggunaan male gaze dalam pembuatan film. Laura Mulvey (1975) mengungkapkan untuk mengetahui perkara male atau female gaze penting untuk memperhatikan detil kecil, seperti simbol-simbol yang dihadirkan.

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, film ini sarat akan hubungan dikotomis khas heteroseksual yang tersaji secara simbolik dari penggunaan pakaian, mobil, dsb. Lebih lanjut sudut pengambilan gambar ketika perempuan telanjang dan laki-laki tetap khas film yang menggunakan male gaze.

Hal kedua, dengan mempertimbangkan cerita yang netral untuk segala gender, maka film ini masih saja terjebak dalam dunia kapitalisme industri perfilman. Sehingga pada akhirnya isu lesbian tak ubahnya bentuk dari komodifikasi.

Karena Seperti yang dikutip dari Jackie Stacey oleh John Storey (2007) bahwa film-film yang berorientasi pada target penonton merupaka film-film yang cenderung memandang penonton sebagai konsumen, sehingga proses pembuatan film tak ubahnya proses produksi barang yang kehilangan idealisme didalamnya.

Terlepas dari segala keraguan akan tawaran sudut pandang dalam film ini, perlu diakui bahwa perkara membebaskan suatu film untuk benar-benar idealis sehingga terbebas dari objektifikasi perempuan adalah hal yang sulit.

Kehadiran Below Her Mouth dapat menjadi langkah awal yang baik. Dengan catatan, bahwa lebih dari sekedar subjek-subjek yang terlibat, pemikiran para tim produksi juga turut harus didekonstruksi untuk dapat melihat lebih jauh tentang female gaze, karena pada dasarnya masih banyak perempuan yang terjebak dengan hegemoni budaya patriarki.

 

Catatan Kaki

[1] Benda yang berbentuk alat kelamin pria, memiliki tali pinggang, dan biasa dikenakan oleh seorang lesbian sehingga layaknya memiliki alat kelamin pria portable. Dikenal juga dengan sebutan phallic object. (cosmopolitan.com, 2017)

Daftar Referensi Artikel 

Bendix, Trish. 2017. Review: ‘Below Her Mouth’ Is a Romance-Fueled Fantasy for Queer Women. (online) diakses pada 21 Mei 2017. (web)

Parker, Andrew. 2017. Taking chances: interview with below her mouth director april mullen and actors erika linder and natalie krill. (online) diakses pada 21 mei 2017. (web)

 

Advertisements